#Ekonomi#IlmuManagament#Merek#Brand#Marketing
Brand Equity
✍️ Menurut Aaker (dalam Yunita 2013) merek merupakan" salah satu komponen" yang penting dalam pemasaran bagi perusahaan, khususnya di tengah persaingan antara produk sejenis.
Merek yang terkenal, kuat dan terpercaya dapat dikatakan memiliki ekuitas merek yang kuat.
π Brand Equity dapat digunakan sebagai indikator yang tepat dalam penilaian konsumen.
π Brand Equity juga bisa berguna bagi perusahaan maupun konsumen.
✍️ Brand equity menurut Aaker dapat diukur melalui empat dimensi yaitu:
✔️ brand awareness,
✔️brand association,
✔️perceived quality dan
✔️ brand loyalty.
✍️ Menurut Aaker (Durianto 2004:1) menyatakan bahwa merek memberikan "nilai" sehingga nilai total produk yang "bermerek" baik menjadi lebih tinggi dibandingkan produk yang dinilai semata-mata secara objektif.
Kenapa ?π²
π Karena, salah satu pertimbangan yang dapat dikemukakan adalah
" reputasi tinggi merek yang baik tentunya tidak jatuh dari langit, tetapi dibangun melalui proses yang bahkan tidak jarang memakan waktu ratusan tahun. "
π Jika pembangunan merek itu memerlukan usaha sedemikian rupa, maka wajar apabila muncul kompensasi tambahan nilai.
✍️ Aaker menyebut nilai tersebut sebagai ekuitas merek (brand equity).
π Lalu bagaimana dengan " Loyalitas " ?
✍️Loyalitas menurut Tjiptono (2001:387), merupakan " situasi dimana konsumen bersikap positif" terhadap " produk/ produsen (penyedia jasa) " dan disertai " pola pembelian ulang yang konsisten".
✍️ Sedangkan menurut Aaker,
" loyalitas dinyatakan sebagai suatu perilaku yang diharapkan atas suatu produk/ layanan yang antara lain meliputi kemungkinan pembelian lebih lanjut/ perubahan perjanjian layanan, atau sebaliknya seberapa besar kemungkinan pelanggan akan beralih kepada merk lain/penyedia jasa lain (Aaker dalam Ibrahim, 2009:9).
π Customer Loyalty merupakan suatu ukuran keterikatan konsumen terhadap sebuah merek.
✍️ Ukuran ini mampu memberikan gambaran tentang " mungkin tidaknya" pelanggan beralih ke " merek produk yang lain" , apabila merek tersebut didapati adanya perubahan, baik menyangkut harga maupun atribut lain (Durianto 2004:126).
✍️ Berkaitan dengan" loyalitas merek" suatu produk, terdapat lima tingkatan loyalitas merek berdasarkan piramida brand loyalty milik Aaker
(dalam Durianto 2004:20), konsumen di golongkan dalam lima kategori yaitu :
✔️Switcher Habitual Buyer,
✔️Satisfied Buyer,
✔️Liking The Brand dan Committed Buyer:
~ Switcher (Pembeli yang berpindah-pindah): Merupakan tingkatan loyalitas yang paling dasar yang dimiliki oleh pelanggan.
" Semakin tinggi frekuensi pelanggan untuk memindahkan pilihannya dari satu merek ke merek lain. ✔️
~ Tahap yang lebih tinggi adalah pembeli yang sungguh-sungguh menyukai merek tertentu. "
Pada tingkatan ini, mulai timbul " perasaan emosional pembeli " terhadap suatu merek.
Perasaan ini umumnya timbul karena " adanya pengalaman dan asosiasi dalam penggunaan merek tersebut dan merek-merek lainnya." ✔️
~ Committed Buyer (Pembeli yang berkomitmen):
Tahapan yang paling tinggi dari kategori pembeli dalam loyalitas merek adalah pembeli yang berkomitmen.
✍️ Mereka memiliki suatu kebanggaan sebagai pengguna suatu merek dan bahkan merek tersebut menjadi sangat penting bagi mereka jika dipandang dari segi fungsi maupun ekspresi mengenai diri mereka (Durianto 2004:20).
Brand Equity
✍️ Menurut Aaker (dalam Yunita 2013) merek merupakan" salah satu komponen" yang penting dalam pemasaran bagi perusahaan, khususnya di tengah persaingan antara produk sejenis.
Merek yang terkenal, kuat dan terpercaya dapat dikatakan memiliki ekuitas merek yang kuat.
π Brand Equity dapat digunakan sebagai indikator yang tepat dalam penilaian konsumen.
π Brand Equity juga bisa berguna bagi perusahaan maupun konsumen.
✍️ Brand equity menurut Aaker dapat diukur melalui empat dimensi yaitu:
✔️ brand awareness,
✔️brand association,
✔️perceived quality dan
✔️ brand loyalty.
✍️ Menurut Aaker (Durianto 2004:1) menyatakan bahwa merek memberikan "nilai" sehingga nilai total produk yang "bermerek" baik menjadi lebih tinggi dibandingkan produk yang dinilai semata-mata secara objektif.
Kenapa ?π²
π Karena, salah satu pertimbangan yang dapat dikemukakan adalah
" reputasi tinggi merek yang baik tentunya tidak jatuh dari langit, tetapi dibangun melalui proses yang bahkan tidak jarang memakan waktu ratusan tahun. "
π Jika pembangunan merek itu memerlukan usaha sedemikian rupa, maka wajar apabila muncul kompensasi tambahan nilai.
✍️ Aaker menyebut nilai tersebut sebagai ekuitas merek (brand equity).
π Lalu bagaimana dengan " Loyalitas " ?
✍️Loyalitas menurut Tjiptono (2001:387), merupakan " situasi dimana konsumen bersikap positif" terhadap " produk/ produsen (penyedia jasa) " dan disertai " pola pembelian ulang yang konsisten".
✍️ Sedangkan menurut Aaker,
" loyalitas dinyatakan sebagai suatu perilaku yang diharapkan atas suatu produk/ layanan yang antara lain meliputi kemungkinan pembelian lebih lanjut/ perubahan perjanjian layanan, atau sebaliknya seberapa besar kemungkinan pelanggan akan beralih kepada merk lain/penyedia jasa lain (Aaker dalam Ibrahim, 2009:9).
π Customer Loyalty merupakan suatu ukuran keterikatan konsumen terhadap sebuah merek.
✍️ Ukuran ini mampu memberikan gambaran tentang " mungkin tidaknya" pelanggan beralih ke " merek produk yang lain" , apabila merek tersebut didapati adanya perubahan, baik menyangkut harga maupun atribut lain (Durianto 2004:126).
✍️ Berkaitan dengan" loyalitas merek" suatu produk, terdapat lima tingkatan loyalitas merek berdasarkan piramida brand loyalty milik Aaker
(dalam Durianto 2004:20), konsumen di golongkan dalam lima kategori yaitu :
✔️Switcher Habitual Buyer,
✔️Satisfied Buyer,
✔️Liking The Brand dan Committed Buyer:
~ Switcher (Pembeli yang berpindah-pindah): Merupakan tingkatan loyalitas yang paling dasar yang dimiliki oleh pelanggan.
" Semakin tinggi frekuensi pelanggan untuk memindahkan pilihannya dari satu merek ke merek lain. ✔️
~ Tahap yang lebih tinggi adalah pembeli yang sungguh-sungguh menyukai merek tertentu. "
Pada tingkatan ini, mulai timbul " perasaan emosional pembeli " terhadap suatu merek.
Perasaan ini umumnya timbul karena " adanya pengalaman dan asosiasi dalam penggunaan merek tersebut dan merek-merek lainnya." ✔️
~ Committed Buyer (Pembeli yang berkomitmen):
Tahapan yang paling tinggi dari kategori pembeli dalam loyalitas merek adalah pembeli yang berkomitmen.
✍️ Mereka memiliki suatu kebanggaan sebagai pengguna suatu merek dan bahkan merek tersebut menjadi sangat penting bagi mereka jika dipandang dari segi fungsi maupun ekspresi mengenai diri mereka (Durianto 2004:20).
No comments:
Post a Comment