#Ekonomi#IlmuManagament#Marketing
Marketing adalah proses mengidentifikasi
dan memenuhi manusia dengan kebutuhan sosialnya.
Salah satu definisi tersingkat dari marketing adalah “memenuhi kebutuhan dengan mendapat laba” (Kotler, 2012, p. 27).
✍️ Marketing oleh The American Marketing
Association adalah aktivitas, seperangkat institusi, dan proses menciptakan, mengkomunikasikan, mengirimkan, dan bertukar penawaran yang mempunyai nilai bagi customer, klien, partner, maupun masyarakat pada umumnya (American
Marketing Association, 2014).
✍️Dalam Kotler (2012), salah satu konsep penting dalam marketing adalah needs, wants dan demands.
Kebutuhan (needs) adalah tuntutan dasar manusia seperti udara makanan, dan pakaian.
πKebutuhan ini dapat menjadi keinginan (wants) ketika kebutuhan tersebut diarahkan pada objek yang lebih spesifik lagi, misalnya seseorang yang menginginkan untuk makan nasi goreng dimana sebenarnya kebutuhan dasarnya hanyalah nasi.
Sedangkan permintaan (demand) adalah keinginan untuk produk tertentu yang disertai dengan daya beli.
π Apa itu Business to Business (B2B) ?π²
✍️ Business to Business atau B2B menurut Kumar dan Reinartz (2012) adalah bentuk hubungan dengan perusahaan di sisi pemasok dan perusahaan bisnis lain di sisi pelanggan. Perusahaan bisnis ini dapat merupakan pedagang tunggal, perusahaan, atau lembaga.
✍️ Pasar B2B meliputi transaksi dalam jumlah yang besar dan biasanya lebih kompleks
(Davis, Golicic, dan Marquardt, 2012)
✍️ Sedangkan , B2B Marketing adalah proses manajemen yang bertanggung jawab atas fasilitasi pertukaran antara produsen barang dan jasa dan pelanggan organisasi mereka (Brassington dan Pettitt, 2006).
π Perbedaan antara pasar B2C dan B2B " bukan pada produknya, " produk dasar dari B2C dan B2B " memiliki spesifikasi yang identik " namun " cara penjualan dan pembeliannya yang berbeda."
π Hubungan B2C sendiri dapat diartikan sebagai " sebuah hubungan bisnis antara pemasok di satu sisi dan konsumen di sisi yang lain."
✍️ Menurut Etzel, Walker dan Stanton
(1999:242) merek adalah: “Sebuah nama yang ditujukan untuk mengidentiikasikan suatu produk dari seseorang atau sekelompok penjual dan membedakannya dari produk-produk pesaing“.
✍️ Menurut Aaker (2002) “ Merek adalah nama atau symbol yang bersifat membedakan (seperti Logo, cap atau kemasan) dengan maksud untuk mengidentifikasikan barang atau jasa dari seorang penjual atau sebuah kelompok penjual tertentu dengan demikian membedakannya dengan barang-barang dan jasa yang dihasilkan oleh para pesaing“.
✍️ Menurut Sutojo (2004), citra adalah pancaran atau reproduksi jati diri dari atau bentuk orang-perorangan, benda atau organisasi.
✍️ Simamora (2002) mengatakan bahwa citra adalah persepsi yang relatif konsisten dalam jangka panjang (enduring perception).
π Jadi tidak mudah untuk membentuk citra, sehingga bila terbentuk akan sulit untuk mengubahnya.
π Citra yang dibentuk harus jelas dan memiliki keunggulan bila dibandingkan dengan pesaingnya.
✍️ Menurut Sutojo (2004), citra perusahaan yang baik dan kuat mempunyai manfaat-manfaat sebagai berikut:
1. Daya saing jangka menengah dan panjang
yang mantap (mid and long term sustainable competitive position).
2. Menjadi perisai selama masa krisis (an
insurance for adverse times).
3. Menjadi daya tarik eksekutif handal
(attracting the best executives).
4. Meningkatkan efektifitas strategi
pemasaran (increasing the effectiveness of
marketing instrument).
5. Peningkatan operasional (cost saving).
✍️ Brand image diartikan oleh Roberts (2004) sebagai persepsi dan perasaan konsumen terhadap sebuah merek.
✍️ Sejalan dengan Roberts (2004),
Keller (1993) mengartikan brand image sebagai sebuah persepsi mengenai sebuah merek yang ada di dalam ingatan konsumen.
✍️ Menurut Hsieh, Pan, and Setiono (2004),
brand image yang sukses memungkinkan
konsumen untuk dapat mengidentifikasi kebutuhan yang perusahaan penuhi, serta dapat membedakan perusahaan dari pesaing-pesaing.
✍️ Ditambahkan pula brand image yang positif tidak hanya meningkatkan kemampuan bersaing tetapi juga mendorong konsumen untuk membeli kembali (Porter & Claycomb, 1997).
✍️ Selain itu apabila perusahaan atau produk/jasa memiliki image baik di mata masyarakat, tentu akan meningkatkan perusahaan ke posisi yang lebih baik di pasar, keunggulan bersaing yang bertahan, dan dapat meningkatkan market share atau performa perusahaan (Park, Jaworski, & MacInnis, 1986).
✍️ Menurut Aaker dan Biel (1993), citra merek (brand image) memiliki 3 komponen yaitu:
a. Citra perusahaan (corporate image) adalah sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap perusahaan yang membuat suatu produk atau jasa.
π Meliputi: popularitas, kredibilitas, serta jaringan perusahaan.
b. Citra konsumen (user image) adalah
sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan
konsumen terhadap pemakai yang menggunakan suatu barang atau jasa.
π Meliputi: gaya hidup dan status
sosialnya.
c. Citra produk (product image) adalah
sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap suatu produk.
π Meliputi: atribut produk tersebut,
manfaat bagi konsumen, penggunaannya
serta jaminan.
✍️ Menurut Darsono (2008),
“kepercayaan adalah " suatu kesediaan individu" untuk " menggantungkan dirinya " pada pihak lain yang terlibat dalam pertukaran karena individu mempunyai keyakinan kepada pihak lain.
✍️ Sementara itu, Mowen dan Minor (2002) menyatakan bahwa “kepercayaan merupakan " semua pengetahuan " yang "dimiliki konsumen" dan semua kesimpulan yang dibuat tentang objek, atribut, dan manfaatnya.
✍️ John Eagen (2004, p.155) juga menyatakan bahwa kepercayaan juga merupakan psychological outcome dari suatu hubungan.
✍️ McKnight et al (2002) menyatakan bahwa ada dua dimensi kepercayaan konsumen, yaitu:
1. Trusting Belief
Trusting belief adalah sejauh mana
seseorang percaya dan merasa yakin terhadap orang lain dalam suatu situasi.
Trusting belief adalah persepsi pihak yang percaya (konsumen) terhadap pihak yang dipercaya (penjual toko maya) yang mana penjual memiliki karakteristik yang akan menguntungkan konsumen.
✍️ McKnight et al (2002)
menyatakan bahwa ada tiga elemen yang
membangun trusting belief, yaitu benevolence, integrity, competence.
2. Trusting Intention
Trusting intention adalah suatu hal yang
disengaja dimana seseorang siap bergantung pada orang lain dalam suatu situasi, ini terjadi secara pribadi dan mengarah langsung kepada orang lain.
Trusting intention didasarkan pada kepercayaan kognitif seseorang kepada orang lain.
✍️ McKnight et al (2002) menyatakan bahwa ada dua elemen yang membangun trusting intention yaitu willingness to depend dan subjective probability of depending.
✍️ Menurut Kotler dan Keller (2009:166),
perilaku konsumen adalah studi tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli, menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide, atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka.
Studi perilaku konsumen terpusat pada
cara individu mengambil keputusan untuk memanfaatkan sumber daya mereka yang tersedia (waktu, uang, usaha) guna membeli barang-barang yang berhubungan dengan konsumsi.
Hal ini mencakup apa yang mereka beli, mengapa mereka membeli, kapan mereka membeli, di mana mereka membeli, seberapa sering mereka membeli, dan seberapa sering mereka menggunakannya.
✍️ Purchase intention menurut Assael (1998) merupakan kecenderungan konsumen untuk membeli suatu merek atau mengambil tindakan yang berhubungan dengan pembelian yang diukur dengan tingkat kemungkinan konsumen melakukan pembelian.
✍️ Busler (2000), mengukur purchase intention melalui 3 dimensi yaitu :
1. Likely
Rencana pembelian konsumen terhadap
suatu produk.
2. Definitely Would
Mengacu kepada kepastian konsumen
dalam suatu produk.
3. Probable
Mengacu pada kemungkinan konsumen
dalam membeli suatu produk.
✍️ Minat beli sendiri merupakan kemungkinan konsumen untuk membeli produk atau jasa (Dodds et al, 1991).
" Minat beli diperoleh dari suatu proses belajar dan proses pemikiran yang membentuk suatu persepsi. "✔️
✍️Minat pembelian ini menciptakan suatu motivasi yang terus terekam dalam benak konsumen dan menjadi suatu keinginan yang sangat kuat sehingga pada akhirnya ketika seorang konsumen harus memenuhi kebutuhannya akan mengaktualisasikan apa yang ada didalam benaknya itu (Deighton et al, 1994).
" Dapat dikatakan bahwa minat beli merupakan pernyataan mental dari konsumen yang merefleksikan rencana pembelian sejumlah produk dengan merek tertentu. " ✔️
✍️ Hal ini diperlukan pemasar maupun ahli ekonomi untuk menggunakannya dalam memprediksi perilaku konsumen dimasa
yang akan datang (Howard, 1994)
Marketing adalah proses mengidentifikasi
dan memenuhi manusia dengan kebutuhan sosialnya.
Salah satu definisi tersingkat dari marketing adalah “memenuhi kebutuhan dengan mendapat laba” (Kotler, 2012, p. 27).
✍️ Marketing oleh The American Marketing
Association adalah aktivitas, seperangkat institusi, dan proses menciptakan, mengkomunikasikan, mengirimkan, dan bertukar penawaran yang mempunyai nilai bagi customer, klien, partner, maupun masyarakat pada umumnya (American
Marketing Association, 2014).
✍️Dalam Kotler (2012), salah satu konsep penting dalam marketing adalah needs, wants dan demands.
Kebutuhan (needs) adalah tuntutan dasar manusia seperti udara makanan, dan pakaian.
πKebutuhan ini dapat menjadi keinginan (wants) ketika kebutuhan tersebut diarahkan pada objek yang lebih spesifik lagi, misalnya seseorang yang menginginkan untuk makan nasi goreng dimana sebenarnya kebutuhan dasarnya hanyalah nasi.
Sedangkan permintaan (demand) adalah keinginan untuk produk tertentu yang disertai dengan daya beli.
π Apa itu Business to Business (B2B) ?π²
✍️ Business to Business atau B2B menurut Kumar dan Reinartz (2012) adalah bentuk hubungan dengan perusahaan di sisi pemasok dan perusahaan bisnis lain di sisi pelanggan. Perusahaan bisnis ini dapat merupakan pedagang tunggal, perusahaan, atau lembaga.
✍️ Pasar B2B meliputi transaksi dalam jumlah yang besar dan biasanya lebih kompleks
(Davis, Golicic, dan Marquardt, 2012)
✍️ Sedangkan , B2B Marketing adalah proses manajemen yang bertanggung jawab atas fasilitasi pertukaran antara produsen barang dan jasa dan pelanggan organisasi mereka (Brassington dan Pettitt, 2006).
π Perbedaan antara pasar B2C dan B2B " bukan pada produknya, " produk dasar dari B2C dan B2B " memiliki spesifikasi yang identik " namun " cara penjualan dan pembeliannya yang berbeda."
π Hubungan B2C sendiri dapat diartikan sebagai " sebuah hubungan bisnis antara pemasok di satu sisi dan konsumen di sisi yang lain."
✍️ Menurut Etzel, Walker dan Stanton
(1999:242) merek adalah: “Sebuah nama yang ditujukan untuk mengidentiikasikan suatu produk dari seseorang atau sekelompok penjual dan membedakannya dari produk-produk pesaing“.
✍️ Menurut Aaker (2002) “ Merek adalah nama atau symbol yang bersifat membedakan (seperti Logo, cap atau kemasan) dengan maksud untuk mengidentifikasikan barang atau jasa dari seorang penjual atau sebuah kelompok penjual tertentu dengan demikian membedakannya dengan barang-barang dan jasa yang dihasilkan oleh para pesaing“.
✍️ Menurut Sutojo (2004), citra adalah pancaran atau reproduksi jati diri dari atau bentuk orang-perorangan, benda atau organisasi.
✍️ Simamora (2002) mengatakan bahwa citra adalah persepsi yang relatif konsisten dalam jangka panjang (enduring perception).
π Jadi tidak mudah untuk membentuk citra, sehingga bila terbentuk akan sulit untuk mengubahnya.
π Citra yang dibentuk harus jelas dan memiliki keunggulan bila dibandingkan dengan pesaingnya.
✍️ Menurut Sutojo (2004), citra perusahaan yang baik dan kuat mempunyai manfaat-manfaat sebagai berikut:
1. Daya saing jangka menengah dan panjang
yang mantap (mid and long term sustainable competitive position).
2. Menjadi perisai selama masa krisis (an
insurance for adverse times).
3. Menjadi daya tarik eksekutif handal
(attracting the best executives).
4. Meningkatkan efektifitas strategi
pemasaran (increasing the effectiveness of
marketing instrument).
5. Peningkatan operasional (cost saving).
✍️ Brand image diartikan oleh Roberts (2004) sebagai persepsi dan perasaan konsumen terhadap sebuah merek.
✍️ Sejalan dengan Roberts (2004),
Keller (1993) mengartikan brand image sebagai sebuah persepsi mengenai sebuah merek yang ada di dalam ingatan konsumen.
✍️ Menurut Hsieh, Pan, and Setiono (2004),
brand image yang sukses memungkinkan
konsumen untuk dapat mengidentifikasi kebutuhan yang perusahaan penuhi, serta dapat membedakan perusahaan dari pesaing-pesaing.
✍️ Ditambahkan pula brand image yang positif tidak hanya meningkatkan kemampuan bersaing tetapi juga mendorong konsumen untuk membeli kembali (Porter & Claycomb, 1997).
✍️ Selain itu apabila perusahaan atau produk/jasa memiliki image baik di mata masyarakat, tentu akan meningkatkan perusahaan ke posisi yang lebih baik di pasar, keunggulan bersaing yang bertahan, dan dapat meningkatkan market share atau performa perusahaan (Park, Jaworski, & MacInnis, 1986).
✍️ Menurut Aaker dan Biel (1993), citra merek (brand image) memiliki 3 komponen yaitu:
a. Citra perusahaan (corporate image) adalah sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap perusahaan yang membuat suatu produk atau jasa.
π Meliputi: popularitas, kredibilitas, serta jaringan perusahaan.
b. Citra konsumen (user image) adalah
sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan
konsumen terhadap pemakai yang menggunakan suatu barang atau jasa.
π Meliputi: gaya hidup dan status
sosialnya.
c. Citra produk (product image) adalah
sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap suatu produk.
π Meliputi: atribut produk tersebut,
manfaat bagi konsumen, penggunaannya
serta jaminan.
✍️ Menurut Darsono (2008),
“kepercayaan adalah " suatu kesediaan individu" untuk " menggantungkan dirinya " pada pihak lain yang terlibat dalam pertukaran karena individu mempunyai keyakinan kepada pihak lain.
✍️ Sementara itu, Mowen dan Minor (2002) menyatakan bahwa “kepercayaan merupakan " semua pengetahuan " yang "dimiliki konsumen" dan semua kesimpulan yang dibuat tentang objek, atribut, dan manfaatnya.
✍️ John Eagen (2004, p.155) juga menyatakan bahwa kepercayaan juga merupakan psychological outcome dari suatu hubungan.
✍️ McKnight et al (2002) menyatakan bahwa ada dua dimensi kepercayaan konsumen, yaitu:
1. Trusting Belief
Trusting belief adalah sejauh mana
seseorang percaya dan merasa yakin terhadap orang lain dalam suatu situasi.
Trusting belief adalah persepsi pihak yang percaya (konsumen) terhadap pihak yang dipercaya (penjual toko maya) yang mana penjual memiliki karakteristik yang akan menguntungkan konsumen.
✍️ McKnight et al (2002)
menyatakan bahwa ada tiga elemen yang
membangun trusting belief, yaitu benevolence, integrity, competence.
2. Trusting Intention
Trusting intention adalah suatu hal yang
disengaja dimana seseorang siap bergantung pada orang lain dalam suatu situasi, ini terjadi secara pribadi dan mengarah langsung kepada orang lain.
Trusting intention didasarkan pada kepercayaan kognitif seseorang kepada orang lain.
✍️ McKnight et al (2002) menyatakan bahwa ada dua elemen yang membangun trusting intention yaitu willingness to depend dan subjective probability of depending.
✍️ Menurut Kotler dan Keller (2009:166),
perilaku konsumen adalah studi tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli, menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide, atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka.
Studi perilaku konsumen terpusat pada
cara individu mengambil keputusan untuk memanfaatkan sumber daya mereka yang tersedia (waktu, uang, usaha) guna membeli barang-barang yang berhubungan dengan konsumsi.
Hal ini mencakup apa yang mereka beli, mengapa mereka membeli, kapan mereka membeli, di mana mereka membeli, seberapa sering mereka membeli, dan seberapa sering mereka menggunakannya.
✍️ Purchase intention menurut Assael (1998) merupakan kecenderungan konsumen untuk membeli suatu merek atau mengambil tindakan yang berhubungan dengan pembelian yang diukur dengan tingkat kemungkinan konsumen melakukan pembelian.
✍️ Busler (2000), mengukur purchase intention melalui 3 dimensi yaitu :
1. Likely
Rencana pembelian konsumen terhadap
suatu produk.
2. Definitely Would
Mengacu kepada kepastian konsumen
dalam suatu produk.
3. Probable
Mengacu pada kemungkinan konsumen
dalam membeli suatu produk.
✍️ Minat beli sendiri merupakan kemungkinan konsumen untuk membeli produk atau jasa (Dodds et al, 1991).
" Minat beli diperoleh dari suatu proses belajar dan proses pemikiran yang membentuk suatu persepsi. "✔️
✍️Minat pembelian ini menciptakan suatu motivasi yang terus terekam dalam benak konsumen dan menjadi suatu keinginan yang sangat kuat sehingga pada akhirnya ketika seorang konsumen harus memenuhi kebutuhannya akan mengaktualisasikan apa yang ada didalam benaknya itu (Deighton et al, 1994).
" Dapat dikatakan bahwa minat beli merupakan pernyataan mental dari konsumen yang merefleksikan rencana pembelian sejumlah produk dengan merek tertentu. " ✔️
✍️ Hal ini diperlukan pemasar maupun ahli ekonomi untuk menggunakannya dalam memprediksi perilaku konsumen dimasa
yang akan datang (Howard, 1994)
No comments:
Post a Comment