#Ekonomi#IlmuManagament#Pemasaran#CultBrand
Cult Brand
✍️ Durianto dkk (2004:4) ekuitas merek (brand equity) adalah " salah satu modal untuk menentukan keunggulan kompetitif dan komparatif perusahaan."
๐ Sebuah perusahaan, baik yang menghasilkan " barang maupun jasa", perlu mengidentifikasi cara-cara spesifik untuk " melakukan diferesensiasi atas produknya agar mencapai keunggulan yang kompetitif."
๐ Jika konsumen cenderung membeli suatu merek walaupun dihadapkan pada para pesaing yang menawarkan produk yang " lebih unggul ", misalnya : dalam hal harga dan kepraktisan, maka merek tersebut memiliki " nilai ekuitas yang tinggi. " ✔️
๐ Switcher atau konsumen yang cenderung berganti-ganti merek terutama yang merasa sensitif terhadap harga, diskon maupun promosi berada pada posisi dua terendah.
๐ Hal tersebut tidak sesuai dengan piramida brand loyalty milik Aaker, seharusnya pada kategori switcher berada pada " tingkatan paling rendah".
Meskipun, begitu perbandingan antara " habitual buyer " yang menempati posisi " paling rendah " yang tidak terlalu signifikan dengan kategori switcher.
✍️ Kotler dan Keller (2007), mendefinisikan ekuitas merek sebagai nilai tambah yang diberikan kepada produk dan jasa.
✍️ Gobe (2010) dalam tulisannya menjelaskan bahwa,
" emotional branding dapat mengeksplorasi sejauh mana efektivitas interaksi konsumen yang diketahui melalui emosional dan perasaan dari konsumen terhadap suatu brand. "
๐Loyalitas konsumen terhadap sebuah merek berbeda-beda.
✍️Terdapat salah satu jenis loyalitas yakni "consumer fanaticism " atau " loyalitas fanatik", yang ditandai oleh " komitmen, kesetiaan, devosi atau pengabdian, passion, ikatan emosional, antusiasme, dan keterlibatan (Chung & Farrelly, 2005).
✍️ Konsumen fanatik menunjukkan “extereme devotion to a brand” dimana merek menjadi bagian penting yang berpengaruh dalam kehidupan konsumen (Chung & Farelly, 2005).
๐ Apapun akan dilakukan untuk tetap menggunakan dan menjaga merek tersebut, dimana dalam hal ini konsumen telah mencapai pemujaan terhadap suatu merek (cult brand).
✍️ Pemujaan terhadap suatu merek ini termasuk ke dalam loyalitas fanatik, dimana istilah
‘cult brand’ merupakan
" merek yang menargetkan pada niche market atau merek yang melahirkan evangelistic customers (Ragas & Bueno, 2002).
๐ Makna " cult brand " secara luas adalah " suatu merek yang membuat koneksi emosional yang sangat dalam dan unik dengan konsumennya sehingga mereka menunjukkan pengabdian atau kesetiaan yang ekstrem atau dedikasi dan loyalitas terhadap merek (Interview of the Week, 2003).
Dengan demikian, " konsumen cult brand memiliki karakteristik yang sama seperti konsumen fanatik." ✔️
" Fenomena pemujaan terhadap suatu merek menjadi satu hal yang menarik dalam dunia pemasaran. " ✔️
๐ Membangun merek menjadi cult brand penting untuk dilakukan perusahaan karena cult brand menghasilkan konsumen yang paling loyal dan fanatik.
✍️ Dengan "memiliki konsumen" tersebut, banyak manfaat yang didapat perusahaan, antara lain, " konsumen fanatik dengan sukarela akan menyebarkan word-of-mouth yang positif mengenai merek serta menjaga kelanjutan eksistensi merek ". (Chung & Farrelly, 2005).
Selain itu, konsumen fanatik menunjukkan " kecintaan yang mendalam terhadap merek dan akan tetap loyal meskipun kinerja merek kurang baik. " ✔️
✍️ Terlebih lagi, konsumen fanatik memiliki dorongan konsumsi yang ekstrem yang berimplikasi pada pola pembeliannya (Hoffman, 2000).
✍️ Mereka juga bertindak sebagai penyebar merek kepada orang lain dan mampu menarik konsumen baru bagi perusahaan (Rifkin, 1999).
✍️ Konsumen fanatik berusaha untuk mendukung merek, salah satunya dengan bergabung dan terlibat aktif dalam komunitas merek (brand communities) (Muniz & O’Guinn, 2001).
Cult Brand
✍️ Durianto dkk (2004:4) ekuitas merek (brand equity) adalah " salah satu modal untuk menentukan keunggulan kompetitif dan komparatif perusahaan."
๐ Sebuah perusahaan, baik yang menghasilkan " barang maupun jasa", perlu mengidentifikasi cara-cara spesifik untuk " melakukan diferesensiasi atas produknya agar mencapai keunggulan yang kompetitif."
๐ Jika konsumen cenderung membeli suatu merek walaupun dihadapkan pada para pesaing yang menawarkan produk yang " lebih unggul ", misalnya : dalam hal harga dan kepraktisan, maka merek tersebut memiliki " nilai ekuitas yang tinggi. " ✔️
๐ Switcher atau konsumen yang cenderung berganti-ganti merek terutama yang merasa sensitif terhadap harga, diskon maupun promosi berada pada posisi dua terendah.
๐ Hal tersebut tidak sesuai dengan piramida brand loyalty milik Aaker, seharusnya pada kategori switcher berada pada " tingkatan paling rendah".
Meskipun, begitu perbandingan antara " habitual buyer " yang menempati posisi " paling rendah " yang tidak terlalu signifikan dengan kategori switcher.
✍️ Kotler dan Keller (2007), mendefinisikan ekuitas merek sebagai nilai tambah yang diberikan kepada produk dan jasa.
✍️ Gobe (2010) dalam tulisannya menjelaskan bahwa,
" emotional branding dapat mengeksplorasi sejauh mana efektivitas interaksi konsumen yang diketahui melalui emosional dan perasaan dari konsumen terhadap suatu brand. "
๐Loyalitas konsumen terhadap sebuah merek berbeda-beda.
✍️Terdapat salah satu jenis loyalitas yakni "consumer fanaticism " atau " loyalitas fanatik", yang ditandai oleh " komitmen, kesetiaan, devosi atau pengabdian, passion, ikatan emosional, antusiasme, dan keterlibatan (Chung & Farrelly, 2005).
✍️ Konsumen fanatik menunjukkan “extereme devotion to a brand” dimana merek menjadi bagian penting yang berpengaruh dalam kehidupan konsumen (Chung & Farelly, 2005).
๐ Apapun akan dilakukan untuk tetap menggunakan dan menjaga merek tersebut, dimana dalam hal ini konsumen telah mencapai pemujaan terhadap suatu merek (cult brand).
✍️ Pemujaan terhadap suatu merek ini termasuk ke dalam loyalitas fanatik, dimana istilah
‘cult brand’ merupakan
" merek yang menargetkan pada niche market atau merek yang melahirkan evangelistic customers (Ragas & Bueno, 2002).
๐ Makna " cult brand " secara luas adalah " suatu merek yang membuat koneksi emosional yang sangat dalam dan unik dengan konsumennya sehingga mereka menunjukkan pengabdian atau kesetiaan yang ekstrem atau dedikasi dan loyalitas terhadap merek (Interview of the Week, 2003).
Dengan demikian, " konsumen cult brand memiliki karakteristik yang sama seperti konsumen fanatik." ✔️
" Fenomena pemujaan terhadap suatu merek menjadi satu hal yang menarik dalam dunia pemasaran. " ✔️
๐ Membangun merek menjadi cult brand penting untuk dilakukan perusahaan karena cult brand menghasilkan konsumen yang paling loyal dan fanatik.
✍️ Dengan "memiliki konsumen" tersebut, banyak manfaat yang didapat perusahaan, antara lain, " konsumen fanatik dengan sukarela akan menyebarkan word-of-mouth yang positif mengenai merek serta menjaga kelanjutan eksistensi merek ". (Chung & Farrelly, 2005).
Selain itu, konsumen fanatik menunjukkan " kecintaan yang mendalam terhadap merek dan akan tetap loyal meskipun kinerja merek kurang baik. " ✔️
✍️ Terlebih lagi, konsumen fanatik memiliki dorongan konsumsi yang ekstrem yang berimplikasi pada pola pembeliannya (Hoffman, 2000).
✍️ Mereka juga bertindak sebagai penyebar merek kepada orang lain dan mampu menarik konsumen baru bagi perusahaan (Rifkin, 1999).
✍️ Konsumen fanatik berusaha untuk mendukung merek, salah satunya dengan bergabung dan terlibat aktif dalam komunitas merek (brand communities) (Muniz & O’Guinn, 2001).
No comments:
Post a Comment